“Memprioritaskan Tuhan”

adminRENUNGAN

1 Korintus 2:9

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

 

Tahun 2018 diprediksikan merupakan tahun kekeringan dan tahun yang sulit. Banyak ketidakpastian dalam berbagai hal: politik, ekonomi, sosial, termasuk keluarga dan iman. Kita sangat membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk menghadapi ketidakpastian ini. Persoalan di tahun 2017 yang belum selesai masih berlanjut ditambah dengan berbagai persoalan baru seperti rencana pilkada yang akan dilaksanakan di 171 tempat dan prediksi goncangan ekonomi. Tensi politik menghadapi pilkada mempengaruhi keamanan kota dan berdampak pada keberlangsungan kehidupan masyarakat serta kesulitan dalam hal ekonomi. Data sejarah menunjukkan bahwa krisis politik, ekonomi dan sosial menyebabkan korban bagi kaum minoritas. Kita harus banyak berdoa untuk TNI dan Polri serta semua bagian yang terkait agar bijak, waspada dan kuat menghadapi semua goncangan ini. Namun, di tengah ketidakpastian ini, kita memiliki Allah yang pasti dan yang mencurahkan kasih karunia yang berlimpah-limpah. Pandangan kita bukan pada besarnya masalah, tapi pada siapa yang memegang tangan kita, siapa yang berjalan bersama dengan kita dan menjadi andalan kita. Tuhan kita nyata dan bisa membuka jalur kemurahan sesulit apapun persoalannya. Oleh karena itu, kita bisa berharap bahwa Allah Immanuel pasti menolong tepat pada waktunya dan kita akan mengalami hal-hal yang lebih baik di tahun 2018 karena kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi.

 

Dalam mengantisipasi kesulitan ekonomi yang mungkin bisa terjadi, kita harus mempersiapkan diri dengan memperhatikan penggunaan uang agar tidak melebihi pendapatan, serta jangan sampai berhutang. Dalam beberapa abad terakhir, telah terjadi beberapa revolusi industri: mesin uap menggunakan kekuatan uap untuk produksi; tenaga listrik dengan mengandalkan kekuatan listrik untuk industri; mesin dan robot menggantikan pekerjaan manusia; kemudian di abad sekarang dan mendatang, jaringan ‘online’ internet akan menguasai dan mengontrol segala sesuatu. Barangsiapa yang ahli dalam pemakaian jaringan internet secara ‘online’ (digital), yang akan unggul dalam menguasai perekonomian. Jaringan internet berguna untuk membuat jarak jauh menjadi dekat, mempermudah komunikasi dan transaksi, baik perbankan, penjualan dan pembelian. Namun, internet dan gadget bisa juga membuat hubungan jarak yang dekat menjadi jauh dan hubungan keluarga menjadi renggang. Penyalahgunaan internet bisa menimbulkan kerusakan moral oleh pornografi, perpecahan oleh gosip dan fitnah dan memudahkan kejahatan merajalela. Dalam hal ini, kita harus memperlengkapi diri untuk belajar memfungsikan internet dengan benar dan juga berjaga-jaga agar tidak terjerat dalam penyimpangan.

 

Di awal tahun ini, kita diberi pesan bagaimana berjalan dan hidup di tahun 2018, yaitu:

  1. Beribadah dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan rasa cukup

1 Timotius 6:6, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”

Kita berharap pada kemurahan Tuhan untuk memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Namun, itu tidak datang begitu saja, diperlukan kesungguhan hati dalam beribadah. Cek dan ricek apakah kita sungguh-sungguh dalam beribadah atau hanya karena kebiasaan dan sekedar merasa tidak enak kalau tidak beribadah pada hari Minggu sebelum jalan-jalan. Ini waktunya kita bangun dari tidur; minta hati yang baru dan kacamata baru untuk memandang dari kacamata Tuhan.

 

Kasih karunia dan kekuatan Tuhan akan dilimpahkan pada orang-orang yang bersungguh hati dalam beribadah. 2 Tawarikh 16:9a, “Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” Biarlah kita jadikan ibadah itu bagian kehidupan kita, yang dilakukan bukan saja di gereja, tapi dalam keseharian kita. Segala sesuatu yang kita kerjakan adalah ibadah. Ibadah menjaga kita untuk tidak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan. Ujian berlaku saat kita berpikir bahwa mata Tuhan tidak melihat apa yang kita lakukan.

 

Ibadah dengan rasa cukup akan mendatangkan keuntungan besar. Rasa cukup membuat kita bisa bersyukur dan mau berbagi sekalipun dalam kekurangan karena adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kisah Para Rasul 21:35c).

 

  1. Menjaga kerukunan – hidup rukun sehati

Mazmur 133:1-3, “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

 

Hendaklah kita menjaga kerukunan di antara keluarga – suami dan isteri, orang tua dan anak, sesama saudara baik dalam keluarga maupun saudara seiman dan sesama hamba Tuhan, di antara teman-teman kerja, di antara gereja-gereja Tubuh Kristus serta rukun di dalam masyarakat. Jaga kerukunan agar musuh tidak berhasil menyerang dan memecah belah.

 

Sewaktu kita mau hidup rukun, Tuhan akan memberikan hak atau wewenang pada kita untuk memperoleh berkat secara terus menerus dalam waktu yang panjang sampai pada kekekalan. Sewaktu kerukunan dipelihara, maka berkat akan diperintahkan untuk mencari kita. Kita tidak perlu mengejar berkat, tapi kebaikan, kemurahan, berkat dan kehidupan yang akan mengikuti kita seumur hidup kita.

 

  1. Memprioritaskan Tuhan

Salah satu ciri-ciri orang yang mendahulukan Tuhan adalah selalu memberi yang terbaik untuk Tuhan. Dalam keadaan susah ataupun diberkati, selalu menyisihkan yang terbaik dan mempersembahkannya untuk Tuhan, baik dalam hal waktu, kasih maupun uang/materi. Orang-orang yang memprioritaskan Tuhan juga taat dan setia pada Firman Tuhan sekalipun keadaan tidak mungkin dan sulit.
Dalam Alkitab, ada beberapa contoh tokoh Alkitab yang memprioritaskan Tuhan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Salah satunya adalah kisah tentang Elia dan janda di Sarfat yang taat memberikan kepada Tuhan terlebih dahulu sekalipun dalam kekurangan dan keadaan yang mempertaruhkan nyawanya dan anaknya.

 

1 Raja-raja 17:8-14, “Maka datanglah firman Tuhan kepada Elia: “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.” Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Perempuan itu menjawab: “Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi.”

 

Di tengah-tengah kekeringan, janda di Sarfat melakukan hal yang sulit baginya. Karena ketaatannya, dia dan anaknya dipelihara sampai musim kering lewat. Tuhan ingin memberkati kita seperti jandi di Sarfat yang memprioritaskan Tuhan.

 

Contoh lain adalah Ishak, yang taat pada Tuhan, mengikuti perintah Tuhan dan tidak mengandalkan Mesir. Kejadian 26:1-2, “Maka timbullah kelaparan di negeri itu – ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.” Mesir melambangkan sistem dunia. Sewaktu kelaparan terjadi, Ishak mau lari ke dunia untuk mencari pertolongan. Ishak mencoba berharap pada dunia. Tapi Tuhan berpesan untuk tinggal di Gerar. Cara Tuhan menolong berbeda. Ishak mendengar dan melakukan pesan Tuhan dan mulai menabur. Dan karena Ishak taat, tahun itu juga ia menuai dan mendapat hasil 100 kali lipat. Kejadian 26:13, “Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Janganlah kita berhenti menabur, namun prioritaskan Tuhan. Taburan kita akan menghasilkan tuaian 100 kali lipat.

 

Contoh ketiga adalah kisah janda miskin di Perjanjian Baru. Tuhan Yesus memuji kasih janda miskin itu dan berkata bahwa ia memberi lebih banyak dari pada semua orang di bait Allah pada saat itu. Lukas 21:2-4, “Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahwa ia memberi seluruh nafkahnya.” Sekalipun hanya memberi dua peser uang, janda miskin itu memberi persembahan dari kekurangannya, yaitu seluruh uang yang dia miliki.

 

Di tahun 2018 yang diprediksi kering dan sulit ini, marilah kita memprioritaskan Tuhan, mempersembahkan kasih kita dan memberi yang terbaik untuk Tuhan. Marilah kita memulai tahun 2018 dengan Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala hal, baik dalam keadaan senang maupun susah. Marilah kita tetap bersemangat dalam membangun Rumah Persembahan dan menjadi rumah persembahan bagi-Nya. Biarlah kita belajar seperti Hizkia yang memperbaiki bait Allah dan memulihkan ibadah di rumah Tuhan. Marilah kita terus membangun agar Rumah Persembahan segera selesai dan menjadi berkat dan wadah untuk menampung banyak orang yang datang untuk mengenal Tuhan. Marilah kita beribadah dengan sungguh-sungguh disertai dengan rasa cukup yang mendorong kita untuk bersyukur dan membagi; jaga kerukunan; taat pada pesan Firman Tuhan dan tetap menabur seperti Ishak, sekalipun di musim kering; dan memberikan yang terbaik dengan muatan kasih seperti janda miskin. Jika kita menghormati Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka Dia akan memberi terobosan dan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)