“Kunci Keberhasilan di Tahun 2018”

adminRENUNGAN

2 Tawarikh 29:1-3

“Hizkia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abia, anak Zakharia. Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang pertama, ia membuka pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya.”

 

Memasuki tahun 2018 orang-orang merasa kuatir akan goncangan politik dan ekonomi yang mungkin bisa terjadi oleh karena pilkada yang akan berlangsung di 171 tempat di berbagai propinsi, kota dan kabupaten. Bagaimana kita memulai perjalanan di tahun 2018 agar kita berhasil dan beruntung? Di renungan sebelumnya dijelaskan bahwa ibadah yang disertai dengan rasa cukup akan memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6). Apapun yang kita lakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan karena Dialah yang memberi upah. Hidup dan pekerjaan kita adalah ibadah. Ibadah yang disertai dengan rasa cukup akan menuntun kita untuk bersyukur, membagi serta memiliki empati dan kepedulian pada lingkungan, kota dan bangsa.

 

Ada beberapa tokoh di Alkitab yang mengalami terobosan yang luar biasa, membuat sejarah baru dan perubahan yang baik bagi bangsanya. Salah satunya adalah Hizkia, seorang raja muda berumur 25 tahun yang membawa pemulihan dan keberhasilan bagi bangsanya. Di tengah-tengah kemerosotan moral dan kemiskinan, Hizkia berhasil membawa bangsa Yehuda untuk bangkit, pulih secara rohani dan menjadi makmur. Kita akan belajar dari Raja Hizkia tentang kunci keberhasilan dan cara kita memulai perjalanan di tahun 2018. Apa yang dilakukan Hizkia sehingga dia berhasil dalam segala usahanya?

  1. Hizkia hidup benar

“Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya” (ayat 2). Hizkia meneladani Daud dalam perjalanan hidupnya, tidak seperti ayahnya Ahas yang menghancurkan, merampok, menutup pintu rumah Tuhan dan membuang segala perkakasnya. Ahas bahkan mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api kepada para Baal dan berharap pertolongan pada Raja Asyur dengan menyerahkan emas yang diambil dari rumah Tuhan (2 Tawarikh 28:1-3, 21-24; 29:19).

  1. Hizkia menghormati tempat kudus Tuhan

“…ia membuka pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya” (ayat 3). Hizkia juga mendorong para imam dan orang-orang Lewi untuk menguduskan diri dan menguduskan rumah Tuhan serta mempersembahkan korban bakaran bagi Allah di tempat kudus (2 Taw. 29:4-5, 11 & 15). Mazmur 68:35 berkata, “Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah!” Allah dahsyat di tempat kudus-Nya dan berkat Tuhan ada di sana. Ketika Tuhan berada di kampung halamannya, Dia tidak dapat melakukan mujizat karena orang-orang di sana tidak percaya dan tidak menghormati-Nya (Matius 13:58). Adalah pilihan kita sendiri apakah kita menghargai atau meninggalkan tempat kudus. Jika kita hidup dalam dosa, kita akan dipisahkan dari tempat kudus Tuhan. Tuhan tidak bekerja dengan dahsyat di dalam hidup orang fasik. Ketika kita rela hidup kudus dan meninggalkan hidup yang lama, kita dapat tinggal di tempat kudus Tuhan dan Dia akan menunjukkan kedahsyatan-Nya.

  1. Hizkia mengikat perjanjian dengan Tuhan

“Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan Tuhan, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita.” (2 Tawarikh 29:10)

  1. Hizkia memulihkan pola ibadah Pondok Daud

2 Tawarikh 29:25-27, “Ia menempatkan orang-orang Lewi di rumah Tuhan dengan ceracap, gambus, dan kecapi sesuai dengan perintah Daud dan Gad, pelihat raja, dan nabi Natan, karena dari Tuhanlah perintah itu, dengan perantaraan nabi-nabi-Nya. Maka berdirilah orang-orang Lewi dengan alat-alat musik Daud, demikian pula para imam dengan nafiri. Lalu Hizkia memerintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah. Pada saat persembahan korban bakaran dimulai, mulailah pula dinyanyikan nyanyian bagi Tuhan dan dibunyikan nafiri, dengan iringan alat-alat musik Daud, raja Israel. Seluruh jemaah sujud menyembah sementara nyanyian dinyanyikan dan nafiri dibunyikan. Semuanya itu berlangsung sampai korban bakaran habis terbakar. Sehabis korban bakaran dipersembahkan, raja dan semua orang yang hadir bersama-sama dia berlutut dan sujud menyembah. Lalu raja Hizkia dan para pemimpin memerintahkan orang-orang Lewi menyanyikan puji-pujian untuk Tuhan dengan kata-kata Daud dan Asaf, pelihat itu. Maka mereka menyanyikan puji-pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan sujud menyembah.”

Hizkia meneladani pola ibadah seperti yang dilakukan oleh Daud dan menempatkan para penyanyi dan pemusik untuk mempersembahkan puji-pujian dengan iringan alat-alat musik sampai persembahan korban bakaran selesai dibakar.

  1. Hizkia mendorong kerukunan dan unity di antara para imam dan orang-orang Lewi

“Tetapi jumlah imam terlalu sedikit, sehingga mereka tidak sanggup menguliti semua korban bakaran. Oleh sebab itu saudara-saudara mereka, orang-orang Lewi, membantu mereka sampai pekerjaan itu selesai dan sampai para imam menguduskan dirinya. Sebab orang-orang Lewi itu lebih bersungguh-sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam.” (2 Taw. 29:34). Orang-orang Lewi menolong para imam dalam pekerjaan persiapan korban bakaran untuk persembahan kudus sehingga kerukunan yang terjalin membuat ibadah di rumah Tuhan ditetapkan kembali dengan sukacita (2 Taw. 29:35-36).

 

Ketika kita hidup rukun dan dalam unity, kerukunan itu seperti minyak urapan yang baik yang meleleh ke janggut dan ke leher jubah serta seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion (Mazmur 133:1-3). Arti dari Hermon adalah ‘sanctuary’ (‘tempat kudus’). Mazmur 96:6 berkata, “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.” Tuhan akan melimpahkan kekuatan-Nya bagi setiap kita yang berada di ‘Hermon’, yaitu tempat kudus-Nya. Keputusan untuk kembali ke tempat kudus-Nya adalah pilihan kita sendiri dan tidak ditentukan oleh orang lain. Apakah kita memilih untuk memberikan pengampunan pada orang-orang yang melukai kita ditentukan oleh kita sendiri. Janganlah kita menunggu sampai orang tersebut berubah, baru melepaskan pengampunan. Sewaktu kita kembali ke tempat kudus, Tuhan akan mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan. Di tempat kudus juga, Tuhan membagi-bagi segala sesuatu. Ibadah yang disertai rasa cukup memberikan keuntungan yang besar. Rasa cukup mendorong kita untuk memberi dan membagi sehingga kita tidak akan menguasai untuk memiliki, tapi menjadi penilik atas apa yang Tuhan percayakan pada kita. Sewaktu kita kembali ke tempat kudus, kita akan tahu bagaimana membagi.

 

Mazmur 108:7 berkata, “Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya: “Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem, dan lembah Sukot hendak Kuukur.” Arti dari pada Sikhem adalah ‘shoulder’ (‘bahu’). Tuhan akan menaruh beban pada bahu kita untuk dijunjung dan diangkat. Di tempat kudus, beban harus dibagi. Untuk mengangkat beban, kita harus melatih otot bahu kita. Kekuatan perlu dilatih. Kalau tidak melatih, tidak akan menjadi lebih kuat. Tubuh kita akan menjadi semakin kuat jika dilatih. Oleh karena itu, kita perlu berlatih dalam menanggung beban agar semakin kuat dan Tuhan akan mempercayakan beban yang semakin besar. Sukot adalah lembah yang subur dimana Yakob pernah memasang tenda untuk ternak-ternaknya dan membangun rumah bagi dirinya sendiri (Kejadian 33:17).

 

Marilah kita kembali ke tempat kudus Tuhan, hidup benar dan menjaga kerukunan antara sesama. Tuhan itu dahsyat dan akan melimpahkan kekuatan dan kehormatan bagi orang-orang yang berada di tempat kudus-Nya, di mana ditemukan keagungan dan semarak. Marilah kita bersama-sama memberi bahu untuk memikul beban – menyelesaikan pembangunan rumah Tuhan. Biarlah kita belajar dari Hizkia yang mengutamakan perbaikan rumah Tuhan dan pemulihan ibadah sehingga Tuhan memberikan terobosan dan membuat segala sesuatu yang dilakukannya berhasil.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)