“Kepada Siapa Kita Mengabdi?”

adminRENUNGAN

Kepada Siapa Kita Mengabdi

Lukas 16:13

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia kaan setia kepada yang seorang dan tiak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

 

Minggu lalu kita merayakan kenaikan Tuhan Yesus yang telah mati, bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga. Ditinggalkan orang yang kita kasihi sangatlah tidak menyenangkan. Murid-murid Yesus mengalami hal tersebut ketika Tuhan naik ke surga meninggalkan mereka. Mereka yang telah berjalan, makan, bekerja, melayani dan tinggal bersama-sama Yesus, ditinggalkan dan merasa satu kehilangan besar. Tapi sebelum naik ke surga, Tuhan meninggalkan pesan serta berjanji bahwa akan mengirim seorang Penolong, yaitu Roh Kudus yang akan menghibur, menolong, menguatkan, menuntun kita kepada seluruh kebenaran dan memenuhi kita dengan kuasa sehingga dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tuhan juga berjanji akan menyediakan tempat agar di mana Dia berada, di situ juga kita akan berada.  Kita tidak perlu takut menghadapi kematian karena kematian adalah kesempatan untuk naik ke surga bersama-sama dengan Tuhan.

 

Ketika bangsa Israel ada di padang gurun, Tuhan berpesan kepada Musa agar satu tempat kudus dibangun untuk-Nya. Keluaran 25:8, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Pesan ini disampaikan ketika mereka berada dalam keadaan kering, di padang gurun di mana tempat yang cocok bagi manusia untuk berjumpa dengan maut. Justru dalam keadaan sulit, Tuhan meminta mereka membangun tempat kudus. Tuhan rindu tinggal bersama-sama dengan kita bukan saja nanti setelah kita berada di surga, tapi juga sekarang saat kita masih ada di bumi.  Apakah kita memiliki kerinduan untuk tinggal bersama dengan Tuhan? Sering sekali kita ingin tinggal bersama dengan Tuhan di rumah Bapa di surga nanti setelah kita tidak ada di dunia lagi dan bukan sekarang. Jika kita rindu untuk tinggal bersama dengan Tuhan sekarang, marilah kita bangun tempat kudus bagi-Nya agar Dia berkenan diam bersama-sama dengan kita.

 

Tuhan berpesan agar setiap orang yang rindu dan terdorong hatinya untuk membawa persembahan khusus. Keluaran 25:1-7, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing;  kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga; minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.”

 

Beberapa pribadi yang mengalami pengangkatan tanpa melalui kematian selain Tuhan Yesus adalah Henokh dan Elia. Kata Henokh חֲנוֹךְ ḥănôḵ berarti ‘dedicated’ atau mengabdi. Selama 300 tahun, Henokh mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Dia bergaul intim dan berjalan bersama-sama dengan Tuhan sampai Tuhan mengangkatnya dan dia tidak ada lagi di bumi (Kejadian 5:24). Di tengah pelayanannya yang dahsyat, setelah mempersiapkan generasi muda, Elia diangkat ke surga oleh Tuhan (2 Raja-raja 2:11).

 

Sewaktu Tuhan Yesus naik di kayu salib dan bangkit dari orang mati, murid-murid-Nya kembali menangkap ikan. Sepanjang malam mereka menjala, tetapi tidak menangkap seekorpun sampai Tuhan menampakkan diri di tepi pantai, memanggil dan meminta mereka menebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Ketika mereka taat, mereka mendapat 153 ekor ikan yang besar-besar. Murid-murid lainnya sibuk dengan tuaian yang begitu melimpah. Tapi lain dengan Petrus; setelah tahu bahwa itu adalah Tuhan, dia sujud menyembah kepada Yesus. Tuhan bertanya sebanyak 3 kali apakah Petrus mengasihi-Nya dan memintanya untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Melihat tuaian besar, di mana hati kita? Apakah tuaian atau Tuhan yang mengikat kita? Banyak gereja sibuk dengan tuaian dan membiarkan Tuhan menantikan kita. Tuhan yang telah menyediakan makanan buat kita dan ingin kita makan bersama-sama dengan-Nya selagi makanan masih panas, sedang menantikan kita. Henokh dan Elia fokus pada Tuhan dan tidak memilih pilihan yang lain. Elia memilih hidup di goa dan tetap fokus pada Tuhan sedangkan 400 nabi Baal hidup enak di istana tapi menyembah Baal. Kita harus memilih kepada siapa kita mengabdi, apakah kepada Tuhan atau kepada mamon. Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan karena jika demikian kita akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon (Lukas 16:13).

 

Selama 40 tahun di padang gurun, bangsa Israel bertahan hidup dan melahirkan satu generasi baru yang masuk ke tanah Kanaan. Tuhan memelihara mereka dan menyediakan tiang api di malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui dan tiang awan di siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan. Tuhan menyediakan manna dan air minum bagi mereka, pakaian mereka tidak rusak dan bahkan kaki mereka tidak bengkak (Nehemia 9:19-21). Mereka bisa tinggal di tempat yang sulit karena ada tempat kudus di tengah-tengah mereka. Saat kita membangun tempat kudus bagi Tuhan dan Dia berkenan tinggal di tengah-tengah kita, maka apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

Biarlah kita menjadi orang-orang yang memiliki kerinduan dan terdorong untuk membangun tempat kudus Tuhan, bersama-sama menyelesaikan pembangunan Rumah Persembahan. Marilah kita belajar seperti Henokh, memilih untuk mengabdi kepada Allah, bergaul intim dan berjalan bersama dengan-Nya dan seperti Elia, yang mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan pelayanan sehingga warisan rohani untuk mengenal Tuhan dan berjalan bersama dengan-Nya tidak pernah berhenti diteruskan kepada generasi yang akan datang.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)