Dipenuhi oleh Roh Kudus

“Dipenuhi oleh Roh Kudus (2)”

Mazmur 68:36

“Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah! .”

 

Saat kita dipenuhi oleh Roh Kudus, hal-hal yang akan kita alami:

  1. Kita akan mendapat pewahyuan dan pengertian tentang maksud Roh Kudus akan hal-hal yang terjadi dan yang dikerjakan-Nya.

Saat kita mulai mengerti, maka kita akan mulai berdoa dengan akal budi kita.

 

Daud memperkenalkan pola ibadah Pondok Daud kepada umat Israel. Dia menempatkan 2.000 pemusik yang melayani 24 jam siang dan malam. Di bawah pimpinan Heman, Asaf dan Yedutun, para pemusik dan pemuji bukan saja memiliki talenta dan mahir memainkan alat musik saja, tetapi mereka juga bernubuat. Ada buah Roh Kudus yang dilepaskan dari pelayanan mereka. 1 Tawarikh 25:1-5, “Selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjuk anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap. Daftar orang-orang yang bekerja dalam ibadah ini ialah yang berikut: dari anak-anak Asaf ialah Zakur, Yusuf, Netanya dan Asarela, anak-anak Asaf di bawah pimpinan Asaf, yang bernubuat dengan petunjuk raja. Dari Yedutun ialah anak-anak Yedutun: Gedalya, Zeri, Yesaya, Simei, Hasabya dan Matica, enam orang, di bawah pimpinan ayah mereka, Yedutun, yang bernubuat dengan diiringi kecapi pada waktu menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi Tuhan. Dari Heman ialah anak-anak Heman: Bukia, Matanya, Uziel, Sebuel, Yerimot, Hananya, Hanani. Eliata, Gidalti, Romamti-Ezer, Yosbekasa, Maloti, Hotir dan Mahaziot. Mereka ini sekalian adalah anak-anak Heman, pelihat raja, menurut janji Allah untuk meninggikan tanduk kekuatannya; sebab Allah telah memberikan kepada Heman empat belas orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan.”

 

Ada dua pola ibadah yang ditulis dalam Alkitab:

  1. Ibadah di pelataran dengan puji-pujian

Mazmur 100:4, “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dnegan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah naman-Nya!”

  1. Ibadah di dalam ruang kudus

2 Tawarikh 5:11-14, “Lalu para imam keluar dari tempat kudus. Para imam yang ada pada waktu itu semuanya telah menguduskan diri, lepas dari giliran rombongan masing-masing. Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup safiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji Tuhan dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setian-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan, sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”

Para imam berada di tempat kudus dan keluar dari sana untuk melayani Tuhan.

 

Dua ribu tahun yang lalu, akses menuju tempat kudus telah terbuka. Pada waktu Yesus naik ke atas kayu salib dan mati, tabir bait Allah terbelah, sehingga kita beroleh akses masuk ke dalam ruang kudus. Ibrani 10:19-20, “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.” Oleh darah Yesus, kita beroleh akses masuk. Melalui pengorbanan Yesus, kita tidak ada di pelataran lagi, tapi di tempat kudus.

 

Berkat yang kita peroleh saat masuk ke dalam tempat kudus:

  1. Ada perlindungan Tuhan

Barangsiapa yang berada di tempat kudus adalah milik kepunyaan Tuhan dan tidak ada yang bisa menjamahnya. Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi kita untuk berada di tempat kudus.

  1. Ada pengertian tentang kehidupan, akhir kehidupan dan segala sesuatu

Mazmur 73:16-17, “Tetapi ketika aku bermasuk untuku mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.”

Pemazmur mengalami pergumulan dalam kehidupan. Pada waktu pemazmur tidak mengerti tentang apa rancangan Tuhan, dia masuk ke tempat kudus dan diberi pengertian oleh Tuhan. Tuhan membuka mata rohaninya untuk melihat akhir hidup orang fasik. Tempat orang fasik adalah berada di tempat yang licin; sekali jatuh, mereka tidak pernah bangun lagi. Tapi orang benar bisa jatuh 7 kali, tapi 7 kali mereka akan bangun dan Tuhan menopang orang benar sehingga tidak akan jatuh tergeletak. Jika kita bisa melihat garis akhir kita, di mana ada kebaikan dan kemurahan Tuhan, kemenangan dan keberhasilan, kita tidak perlu kuatir tentang apapun juga.

 

Ketika Daud berada dalam kesesakan, dikejar oleh Saul dan tentaranya, Daud lari ke En Gedi dan masuk ke tempat kudus Tuhan. Daud menemukan bahwa Tuhan melindunginya pada waktu bahaya sehinga dia dapat mengatasi musuhnya dan menegakkan kepalanya, bersorak-sorai, menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan. Mazmur 27:5-6, “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan.” Dalam tempat kudus Tuhan, akan lahir nyanyian baru. Di tempat kudus-Nya, Allah dahsyat. Di luar tempat kudus, kita tidak menemukan kedahsyatan Tuhan. Tapi saat kita masuk ke dalam tempat kudus Tuhan, kita akan menyaksikan kemuliaan dan kekuatan. Mazmur 63:2-3, “Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.”

 

Nama Yesus berkuasa atas Paulus; tapi nama yang sama tidak berkuasa atas anak-anak Skewa. Mereka dipermalukan oleh iblis. Paulus berdoa dan masuk ke tempat kudus sehingga mengalami kedahsyatan dan kekuatan Tuhan. Kita tidak bisa melihat hal-hal supranatural dan tidak mendengar suara Tuhan karena kurang berdoa. Pada waktu kita hidup dalam perdamaian, darah Yesus yang akan membawa masuk ke tempat kudus Tuhan di mana kekuasaan dan kekuatan Allah dinyatakan dan dikaruniakan.

 

*****

 (Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

Dipenuhi oleh Roh Kudus

“Dipenuhi oleh Roh Kudus (1)”

1 Korintus 14:4

“Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat.”

 

Firman Tuhan di 2 Timotius 3:1 berkata bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Kata masa yang sukar dalam bahasa Yunani adalah χαλεπός chalepos yang berarti masa yang berbahaya, jahat dan ganas. Di masa sukar ini, kita dipesan untuk berjaga-jaga dan berdoa. Kadang-kadang dalam keadaan yang sukar dan berbahaya, kita merasa sulit dan tidak tahu bagaimana berdoa. Itulah sebabnya kita perlu dipenuhi oleh Roh Kudus agar Roh yang membantu dalam kelemahan kita; Roh sendiri yang berdoa untuk kita kepada Tuhan. Roma 8:26-28, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

 

Bagaimana kita mengikut-sertakan Allah di surga supaya Tuhan mengulurkan tangan dan ikut ambil bagian dan mengubah yang tidak baik menjadi baik, duka menjadi suka? Bagaimana kita menarik surga sehingga terlibat dalam hari-hari kita? Tuhan tahu bahwa kemampuan kita terbatas dan tidak meninggalkan kita sendirian. Oleh karena itu Dia mengirim seorang Penolong, yaitu Roh Kudus yang menyertai, menjadi pelindung, penghibur dan kekuatan bagi kita. Yohanes 14:16, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” Roh Kudus yang akan membantu saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

 

Kita berdoa bukan hanya dengan akal budi, tetapi juga dengan bahasa Roh yang diberikan Tuhan kepada kita. 1 Korintus 14:14-15 berkata, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh membangun dirinya sendiri (1 Kor 4:4).

 

Saat kita dipenuhi oleh Roh Kudus, hal-hal yang akan kita alami:

  1. Tuhan akan memberi roh nubuat

Salah satu karunia Roh Kudus yang diberikan Tuhan kepada orang-orang percaya adalah karunia bernubuat. Rasul Paulus mendorong kita untuk bernubuat karena siapa yang bernubuat membangun jemaat (1 Kor 4:4b). Karunia bernubuat adalah memperkatakan, mengucapkan perkataan yang membangun, menghibur dan menasihati sehingga ada perkataan yang baik mengalir dari hati dan mulut kita. Perkataan yang baik dalam bahasa Yunani adalah ἀγαθός agathos yang berarti ‘perkataan yang berguna, perkataan yang menguntungkan, perkataan yang menyenangkan, perkataan yang menggembirakan dan dapat disetujui, perkataan yang luar biasa, jujur, berharga dan terhormat.’ Saat kita dipenuhi oleh Roh Kudus, maka perkataan yang baik, menghibur dan menyejukkan akan menghibur dan memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Gereja mula-mula disukai banyak orang sehingga dalam satu hari 3.000 orang dibaptis dan ditambahkan kepada mereka. Penuaian terjadi karena kita disukai dan memiliki gaya hidup yang berbeda.

 

  1. Mata dan telinga rohani kita akan dibukakan

Kisah 22:17-18

“Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait Allah, rohku diliputi oleh kuasa ilahi. Aku melihat Dia, yang berkata kepadaku: Lekaslah, segeralah tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku.”

 

Rasul Paulus diliputi oleh kuasa ilahi, (bahasa Yunani ‘ekstasis’, yaitu dalam keadaan dipenuhi dan dibanjiri serta dikuasai oleh Roh Kudus). Ada 2 panca indera yang dijamah Tuhan saat mengalami ‘ekstasis’, yaitu mata dan telinga. Paulus melihat dan mendengar suara Bapa di surga. Pada waktu Petrus berdoa di Yope, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi (Kisah Para Rasul 11:5-7). Roh Kudus akan mengurapi dan membanjiri saat kita berdoa dan berjaga-jaga. Pekerjaan Roh Kudus sangat berbeda di Perjanjian Lama dengan yang di Perjanjian Baru. Di Perjanjian Lama, dosa ditutupi dan belum dihapus. Roh Kudus bersifat ‘outpouring spirit’ karena hanya mengurapi dan meninggalkan. Saat Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya, dosa dihapus dan bukan ditutupi. Roh Kudus tinggal di dalam diri kita dan bukan di luar. Roh Kudus mulai memenuhi seperti aliran air sungai yang menenggelamkan kita. Roh Kudus meluap keluar dari dalam kita dan tiba-tiba Tuhan membuka mata dan telinga kita untuk melihat dan mendengar dan kita akan melihat apa yang ada di surga.

 

*****

(Bersambung)

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

Kepada Siapa Kita Mengabdi

“Kepada Siapa Kita Mengabdi?”

Lukas 16:13

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia kaan setia kepada yang seorang dan tiak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

 

Minggu lalu kita merayakan kenaikan Tuhan Yesus yang telah mati, bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga. Ditinggalkan orang yang kita kasihi sangatlah tidak menyenangkan. Murid-murid Yesus mengalami hal tersebut ketika Tuhan naik ke surga meninggalkan mereka. Mereka yang telah berjalan, makan, bekerja, melayani dan tinggal bersama-sama Yesus, ditinggalkan dan merasa satu kehilangan besar. Tapi sebelum naik ke surga, Tuhan meninggalkan pesan serta berjanji bahwa akan mengirim seorang Penolong, yaitu Roh Kudus yang akan menghibur, menolong, menguatkan, menuntun kita kepada seluruh kebenaran dan memenuhi kita dengan kuasa sehingga dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tuhan juga berjanji akan menyediakan tempat agar di mana Dia berada, di situ juga kita akan berada.  Kita tidak perlu takut menghadapi kematian karena kematian adalah kesempatan untuk naik ke surga bersama-sama dengan Tuhan.

 

Ketika bangsa Israel ada di padang gurun, Tuhan berpesan kepada Musa agar satu tempat kudus dibangun untuk-Nya. Keluaran 25:8, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Pesan ini disampaikan ketika mereka berada dalam keadaan kering, di padang gurun di mana tempat yang cocok bagi manusia untuk berjumpa dengan maut. Justru dalam keadaan sulit, Tuhan meminta mereka membangun tempat kudus. Tuhan rindu tinggal bersama-sama dengan kita bukan saja nanti setelah kita berada di surga, tapi juga sekarang saat kita masih ada di bumi.  Apakah kita memiliki kerinduan untuk tinggal bersama dengan Tuhan? Sering sekali kita ingin tinggal bersama dengan Tuhan di rumah Bapa di surga nanti setelah kita tidak ada di dunia lagi dan bukan sekarang. Jika kita rindu untuk tinggal bersama dengan Tuhan sekarang, marilah kita bangun tempat kudus bagi-Nya agar Dia berkenan diam bersama-sama dengan kita.

 

Tuhan berpesan agar setiap orang yang rindu dan terdorong hatinya untuk membawa persembahan khusus. Keluaran 25:1-7, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing;  kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga; minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.”

 

Beberapa pribadi yang mengalami pengangkatan tanpa melalui kematian selain Tuhan Yesus adalah Henokh dan Elia. Kata Henokh חֲנוֹךְ ḥănôḵ berarti ‘dedicated’ atau mengabdi. Selama 300 tahun, Henokh mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Dia bergaul intim dan berjalan bersama-sama dengan Tuhan sampai Tuhan mengangkatnya dan dia tidak ada lagi di bumi (Kejadian 5:24). Di tengah pelayanannya yang dahsyat, setelah mempersiapkan generasi muda, Elia diangkat ke surga oleh Tuhan (2 Raja-raja 2:11).

 

Sewaktu Tuhan Yesus naik di kayu salib dan bangkit dari orang mati, murid-murid-Nya kembali menangkap ikan. Sepanjang malam mereka menjala, tetapi tidak menangkap seekorpun sampai Tuhan menampakkan diri di tepi pantai, memanggil dan meminta mereka menebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Ketika mereka taat, mereka mendapat 153 ekor ikan yang besar-besar. Murid-murid lainnya sibuk dengan tuaian yang begitu melimpah. Tapi lain dengan Petrus; setelah tahu bahwa itu adalah Tuhan, dia sujud menyembah kepada Yesus. Tuhan bertanya sebanyak 3 kali apakah Petrus mengasihi-Nya dan memintanya untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Melihat tuaian besar, di mana hati kita? Apakah tuaian atau Tuhan yang mengikat kita? Banyak gereja sibuk dengan tuaian dan membiarkan Tuhan menantikan kita. Tuhan yang telah menyediakan makanan buat kita dan ingin kita makan bersama-sama dengan-Nya selagi makanan masih panas, sedang menantikan kita. Henokh dan Elia fokus pada Tuhan dan tidak memilih pilihan yang lain. Elia memilih hidup di goa dan tetap fokus pada Tuhan sedangkan 400 nabi Baal hidup enak di istana tapi menyembah Baal. Kita harus memilih kepada siapa kita mengabdi, apakah kepada Tuhan atau kepada mamon. Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan karena jika demikian kita akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon (Lukas 16:13).

 

Selama 40 tahun di padang gurun, bangsa Israel bertahan hidup dan melahirkan satu generasi baru yang masuk ke tanah Kanaan. Tuhan memelihara mereka dan menyediakan tiang api di malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui dan tiang awan di siang hari untuk memimpin mereka pada perjalanan. Tuhan menyediakan manna dan air minum bagi mereka, pakaian mereka tidak rusak dan bahkan kaki mereka tidak bengkak (Nehemia 9:19-21). Mereka bisa tinggal di tempat yang sulit karena ada tempat kudus di tengah-tengah mereka. Saat kita membangun tempat kudus bagi Tuhan dan Dia berkenan tinggal di tengah-tengah kita, maka apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

Biarlah kita menjadi orang-orang yang memiliki kerinduan dan terdorong untuk membangun tempat kudus Tuhan, bersama-sama menyelesaikan pembangunan Rumah Persembahan. Marilah kita belajar seperti Henokh, memilih untuk mengabdi kepada Allah, bergaul intim dan berjalan bersama dengan-Nya dan seperti Elia, yang mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan pelayanan sehingga warisan rohani untuk mengenal Tuhan dan berjalan bersama dengan-Nya tidak pernah berhenti diteruskan kepada generasi yang akan datang.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Mengatasi Kekecewaan”

Matius 11:6

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

 

Dalam dunia yang tidak sempurna ini, kita sering diperhadapkan dengan kekecewaan. Kekecewaan muncul karena apa yang terjadi atau didapat tidak sesuai dengan pengharapan kita. Saat kita berharap kepada manusia ataupun pada diri sendiri dan pengharapan kita tidak memuaskan kita, maka kita akan menjadi kecewa. Kekecewaan bisa juga terjadi karena sakit hati yang tidak diselesaikan dan kekecewaan yang tidak diselesaikan membuat hati menjadi pahit.

 

Kekecewaan sangat memberi dampak negatif dalam hidup ini. Apa yang dapat terjadi jika kita membiarkan kekecewaan menguasai kita?

  1. Kekecewaan mengakibatkan dosa masuk ke dalam hidup kita

Kain membunuh Habel karena kecewa persembahannya ditolak oleh Tuhan. Kejadian 4:6-7, “Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kekecewaan Kain membuka cela sehingga dosa masuk dan membuatnya berbuat kejahatan.

 

  1. Kekecewaan membuat kita membandingkan pelayanan kita dengan orang lain

Matius 11:2-6, “Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Yohanes merasa kecewa karena dipenjarakan sekalipun dia sudah sungguh-sungguh melayani. Mungkin dia berpikir mengapa Tuhan tidak datang menolong dan melepaskannya dari penjara. Kekecewaan membuat Yohanes membandingkan pelayanannya dengan pelayanan orang lain. Kekecewaan juga yang menyebabkan Kain membandingkan persembahannya dengan persembahan Habel. Yohanes mulai meragukan Yesus dan bertanya apakah Dia adalah Mesias yang dinantikan dan diharapkan untuk datang. Yesus menjawab dan berpesan agar Yohanes tidak menjadi kecewa dan menolak-Nya.

 

  1. Kekecewaan membuat kita sulit mengalami mujizat Tuhan

Orang-orang di kampung halaman-Nya kecewa dan menolak Yesus karena mereka mengenal-Nya sebagai anak tukang kayu sehingga Tuhan tidak banyak berbuat mujizat di sana. Matius 13:54-58, “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. Orang yang pahit sulit melihat mujizat dalam hidupnya.

 

  1. Kekecewaan membuat kita tidak mampu melihat masa depan

Yusuf berkali-kali mengalami kekecewaan dan pengkhianatan, tapi tidak mengizinkan kekecewaan menguasainya. Yusuf dikhianati oleh saudara-saudaranya yang melemparnya ke dalam sumur dan berniat untuk membunuhnya. Tapi karena Ruben membelanya, dia akhirnya dijual kepada saudagar Midian yang menjualnya kepada Potifar, kepala pengawal raja Firaun di Mesir.  Yusuf juga dilupakan oleh juru minum raja yang pernah diartikan mimpinya. Karena Yusuf tetap percaya dan berharap pada Tuhan, dia diangkat dan dibela oleh Tuhan. Yusuf kecewa, tapi mampu mengatasi kekecewaan hatinya sehingga dia berhasil melewati ujian dalam hidupnya. Jika tidak, maka kekecewaan dapat menghalanginya untuk melihat masa depan dan semua mimpinya tidak akan menjadi kenyataan.

 

  1. Kekecewaan menyebabkan orang yang kecewa mengecewakan orang lain

Saudara-saudara Yusuf kecewa dengan ayah mereka yang membeda-bedakan dan memperlakukan Yusuf dengan istimewa. Karena kecewa, mereka berbuat jahat pada Yusuf dan mengecewakannya. Isteri Potifar kecewa karena ditolak Yusuf untuk berselingkuh; karena itu dia memfitnah Yusuf. Potifar yang kecewa mendengar laporan palsu isterinya menjebloskan Yusuf ke dalam penjara dan mengecewakannya.

 

Seorang saudara yang dikhianati sangat sulit dipulihkan. Amsal 18:19 berkata, “Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.” Yusuf tidak mengizinkan pengkhianatan saudara-saudaranya menghalangi masa depannya. Dia berkata kepada saudara-saudaranya di Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

 

Daud juga mengalami kekecewaan dengan orang-orang yang di dekatnya. Ayah dan ibunya pernah melupakannya, Saul berkali-kali mencoba membunuhnya dan isterinya Mikhal juga meninggalkannya. Tapi Daud tetap berharap kepada Tuhan. Mazmur 27:10, “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku.” Dia mencari wajah Tuhan dan berharap pada pertolongan Tuhan (Mazmur 27:8-9). Ketika anaknya Absalom dan Ahitofel, penasihat dan orang kepercayaannya mengkhianatinya, Daud menulis kekecewaan hatinya di Mazmur 55:12-14, “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku: kami yang bersama-sama bergaul dengan baik, dan masuk ke rumah Allah di tengah-tengah keramaian.” Daud mengatasi kekecewaan hatinya dengan menceritakan kepada Tuhan keluh kesah dan kekecewaannya. Dia berseru kepada Tuhan, memohon perlindungan-Nya dan percaya kepada-Nya (Mazmur 55:2-3, 17, 24). Daud berkata, “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:22)

 

Mengapa seseorang bisa kecewa? Orang kecewa karena hanya berpikir tentang dirinya sendiri (egois) dan sombong. Di dalam gereja dan rumah tangga, banyak dijumpai orang-orang yang kecewa. Samuel berhasil dalam pelayanan, tapi gagal dalam rumah tangga. Anak-anaknya tidak hidup seperti ayah mereka, mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Samuel mengalami kegagalan dalam membesarkan anak-anaknya karena sejak kecil dia ditempatkan di bait Allah dan dibesarkan oleh imam Eli yang juga gagal dalam kehidupan rumah tangga. Alkitab mencatat bahwa anak-anak Eli juga mengambil persembahan yang dibawa orang-orang Israel untuk Tuhan bagi diri mereka sendiri. Tuhan menegur Eli di 1 Samuel 2:29, “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?”

 

Samuel kecewa ketika para tua-tua Israel datang kepadanya dan meminta agar diangkat seorang raja untuk memerintah atas mereka untuk menggantikan anak-anaknya yang menjabat sebagai hakim pada saat itu. Tapi Samuel mampu mengatasi kekecewaan hatinya; dia datang kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya. 1 Samuel 8:1-6, “Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba. Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada Tuhan.” Tuhan menjawab dan memberitahukan apa yang harus dilakukannya.

 

Sebagai manusia, adalah wajar kita menjadi kecewa. Tapi janganlah berlarut dalam kekecewaan. Saat kecewa, hendaklah kita datang kepada Tuhan, mencari wajah-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Janganlah kita melampiaskan kekecewaan kita dan menulis di media sosial, tetapi marilah kita berdoa kepada Tuhan. Ceritakan kekecewaan kita pada Tuhan dan mohon petunjuk apa yang harus dilakukan. Jika kita tidak mau kecewa, janganlah berharap kepada manusia. Janganlah juga berharap pada orang yang pernah kita tolong. Tapi percayalah dan berharaplah kepada Tuhan yang akan menolong, menuntun, mencukupkan, menghibur dan menguatkan kita. Tuhanlah sumber pengharapan dan pertolongan kita yang tidak pernah mengecewakan. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Allah Damai Sejahtera”

Yohanes 14:27

“Damai Sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

 

Di dalam Alkitab dicatat ada beberapa pribadi yang mengalami pengangkatan tanpa melalui kematian. Mereka adalah:

  1. Henokh

Ibrani 11:5, “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.”

 

Mengapa Henokh dibedakan dari orang-orang yang hidup di zamannya? Untuk bertemu dengan Bapa di surga, orang-orang harus melewati pintu kematian; tetapi tidak demikian dengan Henokh. Kunci dari pengangkatannya adalah karena Allah berkenan kepadanya. Ibrani mengatakan bahwa Henokh terangkat karena iman.

 

Apa yang dilakukan Henokh sehingga Tuhan memperhitungkannya sebagai iman yang berkenan kepada Allah? Kejadian 5:22-24, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” Tuhan jatuh cinta kepada Henokh sehingga ia tidak perlu mengalami kematian. Ia diangkat hidup-hidup oleh Tuhan dengan tubuh yang ada, diangkat dan hidup selama-lamanya bersama dengan Tuhan. Di tengah-tengah kondisi dan keadaan yang terjadi pada zaman Henokh, serta di antara banyak pilihan, Henokh menjadikan Tuhan sebagai pilihan utama hidupnya. Henokh melepaskan seluruh tawaran dunia dan selama 300 tahun ia hidup bergaul dengan Allah. Henokh berjalan bersama dengan Tuhan di bumi dan suatu hari, dia diangkat dan dibawa Tuhan untuk berjalan dan hidup bersama di surga.

 

Arti dari pada nama Henokh adalah חֲנוֹךְ ḥănôḵ yang berarti ‘dedicated’ atau pengabdian. Henokh mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Saat diperhadapkan dengan situasi, ada orang-orang yang lebih memilih kekayaan, jabatan, atau hal-hal lain yang memiliki nilai dari unsur dunia. Tapi Henokh lebih memilih Tuhan dan mengabdi kepada-Nya. Di tengah banyak pilihan di dunia dan banyak keputusan yang harus kita ambil, biarlah kita memilih Tuhan dan memutuskan untuk hidup bergaul intim dengan-Nya.

 

  1. Elia

2 Raja-raja 2:11, “Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi denga kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naikalh Elia ke sorga dalam angin badai.”

 

Elia dipakai dengan kuasa menutup langit sehingga hujan tidak turun dan kuasa membuka langit sehingga hujan turun. Seorang nabi yang luar biasa dan ditakuti oleh orang-orang Israel. Di tengah-tengah pelayanan yang luar biasa, Tuhan mengangkatnya. Tuhan ingin pelayanannya dilanjutkan oleh generasi yang akan datang. Elia digantikan oleh Elisa yang dipakai Tuhan dengan lebih dahsyat lagi.

 

  1. Tuhan Yesus

Tiga hari setelah kematian di kayu salib, Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati dan menampakkan diri  kepada murid-murid-Nya. Ia berjalan, duduk dan makan bersama-sama dengan mereka selama 40 hari setelah kematian-Nya. Setelah itu, Tuhan naik ke surga dan hidup selamanya dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga (Roma 8:34, Kolose 3:1, Ibrani 10:12, 1 Petrus 3:22).

 

Lukas 24:50-52, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.”

 

Sewaktu Tuhan Yesus terangkat ke sorga, perkara-perkara yang lebih besar terjadi.

 

Berkat yang kita terima saat Tuhan Yesus naik ke surga:

  1. Tuhan menyediakan tempat tinggal bagi kita

Yohanes 14:1-4, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

Lewat kenaikan Tuhan Yesus ke surga, pengharapan kita tidak sia-sia. Suatu hari nanti kita juga akan tinggal di surga bersama-sama Tuhan yang telah menyediakan tempat bagi kita.

 

  1. Tuhan meninggalkan damai sejahtera

Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Tuhan meninggalkan warisan damai sejahtera saat naik ke surga. Allah yang hadir saat ini adalah Allah damai sejahtera yang memberikan damai sejahtera bagi kita.

 

  1. Roh Kudus dicurahkan

Yohanes 14:16, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”

Roh Kudus, Penolong yang akan menyertai kita selama-lamanya. Sewaktu Roh Kudus memenuhi hidup kita, Ia bukan saja akan memberikan kita pertolongan, tetapi juga akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran.

 

Yohanes 16:7-14, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu; tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran  dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

 

Roh Kudus akan melatih, membimbing serta menuntun kita dari satu kebenaran kepada kebenaran lainnya. Setelah Roh Kudus dicurahkan, kegerakan terjadi dan gereja mengalami revival yang besar. 70% orang-orang yang hidup di bawah penjajahan Romawi menjadi orang-orang percaya dan muncul hamba-hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa dari masa ke masa. Pada tahun 1720-1820, benua Eropa dan Amerika dilawat serta sekolah-sekolah Kristen didirikan sebagai dampak karya Roh Kudus yang bekerja dan mengubahkan. Pada tahun 1855-1899 (abad ke-19), muncul hamba-hamba Tuhan seperti D.L. Moody, Charles Spurgeon, dll. dan sebagai dampaknya, perbudakan yang terjadi di Amerika dihapuskan. Ada kegerakan untuk mengajar orang-orang untuk membaca dan menghapuskan buta huruf. Pada tahun 1943-2000 (abad ke-20), hamba-hamba Tuhan seperti Billy Graham dan yang lainnya dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sebagai dampak dari lawatan Roh Kudus, Gereja bangkit dan Amerika Serikat mengutus misionaris terbanyak di dunia. Pada abad ke-20, banyak ‘mega church’ bermunculan di mana-mana.

 

Pada hari-hari terakhir, Roh Kudus akan dicurahkan ke atas semua manusia sehingga anak-anak laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orang tua akan mendapat mimpi, teruna-teruna akan mendapat penglihatan-penglihatan dan para hamba laki-laki dan perempuan akan dipenuhi oleh Roh Kudus (Yoel 2:28-29). Kegerakan besar akan terjadi dan gereja kita GBI Medan Plaza menangkap apa yang sedang dan akan terjadi. Family Altar (kelompok-kelompok sel) akan dilawat dan dipakai sebagai sarana untuk penuaian. Lawatan Tuhan juga akan turun pada anak-anak. PBB mencatat bahwa 60% dari penduduk dunia terdiri dari anak-anak muda berusia 25-30 tahun. Sebelumnya daerah sasaran penginjilan adalah ‘10/40 windows’, yaitu negara-negara yang berada di jendela atau belahan bumi lintang 10 derajat dan bujur 40 derajat. Tetapi sasaran penginjilan itu berubah menjadi ‘13/30’, yaitu anak-anak remaja dan anak-anak muda berusia antara 13 sampai dengan 30 tahun menjadi sasaran utama penginjilan. Pada rentang usia 13-30 tahun, adalah usia paling menentukan untuk menerima Kristus atau berubah menuju kehidupan yang buruk. Marilah kita mendoakan agar saat Roh Kudus dicurahkan, banyak anak-anak, anak-anak remaja dan anak-anak muda dilawat dan diubahkan oleh Roh Kudus.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Mengatasi Kekecewaan”

Matius 11:6

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

 

Dalam dunia yang tidak sempurna ini, kita sering diperhadapkan dengan kekecewaan. Kekecewaan muncul karena apa yang terjadi atau didapat tidak sesuai dengan pengharapan kita. Saat kita berharap kepada manusia ataupun pada diri sendiri dan pengharapan kita tidak memuaskan kita, maka kita akan menjadi kecewa. Kekecewaan bisa juga terjadi karena sakit hati yang tidak diselesaikan dan kekecewaan yang tidak diselesaikan membuat hati menjadi pahit.

 

Kekecewaan sangat memberi dampak negatif dalam hidup ini. Apa yang dapat terjadi jika kita membiarkan kekecewaan menguasai kita?

  1. Kekecewaan mengakibatkan dosa masuk ke dalam hidup kita

Kain membunuh Habel karena kecewa persembahannya ditolak oleh Tuhan. Kejadian 4:6-7, “Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kekecewaan Kain membuka cela sehingga dosa masuk dan membuatnya berbuat kejahatan.

 

  1. Kekecewaan membuat kita membandingkan pelayanan kita dengan orang lain

Matius 11:2-6, “Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Yohanes merasa kecewa karena dipenjarakan sekalipun dia sudah sungguh-sungguh melayani. Mungkin dia berpikir mengapa Tuhan tidak datang menolong dan melepaskannya dari penjara. Kekecewaan membuat Yohanes membandingkan pelayanannya dengan pelayanan orang lain. Kekecewaan juga yang menyebabkan Kain membandingkan persembahannya dengan persembahan Habel. Yohanes mulai meragukan Yesus dan bertanya apakah Dia adalah Mesias yang dinantikan dan diharapkan untuk datang. Yesus menjawab dan berpesan agar Yohanes tidak menjadi kecewa dan menolak-Nya.

 

  1. Kekecewaan membuat kita sulit mengalami mujizat Tuhan

Orang-orang di kampung halaman-Nya kecewa dan menolak Yesus karena mereka mengenal-Nya sebagai anak tukang kayu sehingga Tuhan tidak banyak berbuat mujizat di sana. Matius 13:54-58, “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. Orang yang pahit sulit melihat mujizat dalam hidupnya.

 

  1. Kekecewaan membuat kita tidak mampu melihat masa depan

Yusuf berkali-kali mengalami kekecewaan dan pengkhianatan, tapi tidak mengizinkan kekecewaan menguasainya. Yusuf dikhianati oleh saudara-saudaranya yang melemparnya ke dalam sumur dan berniat untuk membunuhnya. Tapi karena Ruben membelanya, dia akhirnya dijual kepada saudagar Midian yang menjualnya kepada Potifar, kepala pengawal raja Firaun di Mesir.  Yusuf juga dilupakan oleh juru minum raja yang pernah diartikan mimpinya. Karena Yusuf tetap percaya dan berharap pada Tuhan, dia diangkat dan dibela oleh Tuhan. Yusuf kecewa, tapi mampu mengatasi kekecewaan hatinya sehingga dia berhasil melewati ujian dalam hidupnya. Jika tidak, maka kekecewaan dapat menghalanginya untuk melihat masa depan dan semua mimpinya tidak akan menjadi kenyataan.

 

  1. Kekecewaan menyebabkan orang yang kecewa mengecewakan orang lain

Saudara-saudara Yusuf kecewa dengan ayah mereka yang membeda-bedakan dan memperlakukan Yusuf dengan istimewa. Karena kecewa, mereka berbuat jahat pada Yusuf dan mengecewakannya. Isteri Potifar kecewa karena ditolak Yusuf untuk berselingkuh; karena itu dia memfitnah Yusuf. Potifar yang kecewa mendengar laporan palsu isterinya menjebloskan Yusuf ke dalam penjara dan mengecewakannya.

 

Seorang saudara yang dikhianati sangat sulit dipulihkan. Amsal 18:19 berkata, “Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.” Yusuf tidak mengizinkan pengkhianatan saudara-saudaranya menghalangi masa depannya. Dia berkata kepada saudara-saudaranya di Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

 

Daud juga mengalami kekecewaan dengan orang-orang yang di dekatnya. Ayah dan ibunya pernah melupakannya, Saul berkali-kali mencoba membunuhnya dan isterinya Mikhal juga meninggalkannya. Tapi Daud tetap berharap kepada Tuhan. Mazmur 27:10, “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku.” Dia mencari wajah Tuhan dan berharap pada pertolongan Tuhan (Mazmur 27:8-9). Ketika anaknya Absalom dan Ahitofel, penasihat dan orang kepercayaannya mengkhianatinya, Daud menulis kekecewaan hatinya di Mazmur 55:12-14, “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku: kami yang bersama-sama bergaul dengan baik, dan masuk ke rumah Allah di tengah-tengah keramaian.” Daud mengatasi kekecewaan hatinya dengan menceritakan kepada Tuhan keluh kesah dan kekecewaannya. Dia berseru kepada Tuhan, memohon perlindungan-Nya dan percaya kepada-Nya (Mazmur 55:2-3, 17, 24). Daud berkata, “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:22)

 

Mengapa seseorang bisa kecewa? Orang kecewa karena hanya berpikir tentang dirinya sendiri (egois) dan sombong. Di dalam gereja dan rumah tangga, banyak dijumpai orang-orang yang kecewa. Samuel berhasil dalam pelayanan, tapi gagal dalam rumah tangga. Anak-anaknya tidak hidup seperti ayah mereka, mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Samuel mengalami kegagalan dalam membesarkan anak-anaknya karena sejak kecil dia ditempatkan di bait Allah dan dibesarkan oleh imam Eli yang juga gagal dalam kehidupan rumah tangga. Alkitab mencatat bahwa anak-anak Eli juga mengambil persembahan yang dibawa orang-orang Israel untuk Tuhan bagi diri mereka sendiri. Tuhan menegur Eli di 1 Samuel 2:29, “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?”

 

Samuel kecewa ketika para tua-tua Israel datang kepadanya dan meminta agar diangkat seorang raja untuk memerintah atas mereka untuk menggantikan anak-anaknya yang menjabat sebagai hakim pada saat itu. Tapi Samuel mampu mengatasi kekecewaan hatinya; dia datang kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya. 1 Samuel 8:1-6, “Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba. Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada Tuhan.” Tuhan menjawab dan memberitahukan apa yang harus dilakukannya.

 

Sebagai manusia, adalah wajar kita menjadi kecewa. Tapi janganlah berlarut dalam kekecewaan. Saat kecewa, hendaklah kita datang kepada Tuhan, mencari wajah-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Janganlah kita melampiaskan kekecewaan kita dan menulis di media sosial, tetapi marilah kita berdoa kepada Tuhan. Ceritakan kekecewaan kita pada Tuhan dan mohon petunjuk apa yang harus dilakukan. Jika kita tidak mau kecewa, janganlah berharap kepada manusia. Janganlah juga berharap pada orang yang pernah kita tolong. Tapi percayalah dan berharaplah kepada Tuhan yang akan menolong, menuntun, mencukupkan, menghibur dan menguatkan kita. Tuhanlah sumber pengharapan dan pertolongan kita yang tidak pernah mengecewakan. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Kekuatan Sinergi”

Yohanes 17:22-23

“Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

 

Ayat di atas adalah doa Tuhan Yesus kepada Bapa di Surga agar murid-murid-Nya bersatu sama seperti Bapa dan Tuhan Yesus adalah satu. Bapa yang ada di dalam Yesus dan Tuhan Yesus di dalam kita memampukan kita untuk bersatu. Dengan hidup dalam kesatuan (‘unity’), kita bisa mencapai kesempurnaan. Dengan demikian, dunia akan bisa melihat kasih Bapa dan Kristus di dalam kita dan mengenal-Nya juga. Kesatuan (‘unity’) dapat dicapai saat kita hidup dalam kerukunan. Di awal tahun ini, Tuhan berpesan agar kita semua hidup dalam kerukunan. Kerukunan adalah sesuatu yang indah dan baik dilihat dan dialami. Kerukunan menarik minyak pengurapan yang akan memampukan kita melakukan hal-hal yang spesial. Kerukunan juga mendatangkan embun berkat yang membuahkan kelimpahan. Saat kita hidup rukun, berkat dan kehidupan akan diperintahkan Tuhan untuk mengikuti kita selama-lamanya.

 

Kejadian 11:1-9 menceritakan tentang berdirinya menara Babel di tanah Sinear.  Orang-orang pada saat itu bermaksud mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dengan tujuan mencari nama dan tidak terserak ke seluruh bumi. Namun tujuan mereka tidak berkenan pada Tuhan yang mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing dan diserakkan dari situ ke seluruh bumi. Tuhan berfirman di Kejadian 11:6 bahwa ketika orang-orang bersatu, apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.  Bersama Tuhan kesatuan (‘unity’) memampukan kita melakukan apa saja. Ada satu sinerji kekuatan yang terjadi dalam kebersamaan dan kesatuan. Pengkotbah 4:12 berkata, “Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

 

Di abad ke-21 ini dimana revolusi digital menguasai dunia, ditandai dengan berkembangnya teknologi dan penggunaan robot dan internet, generasi millennial dan generasi Z bertumbuh  dan bangkit untuk memegang peranan penting dalam global ekonomi, sosial dan teknologi modern. Alat-alat yang bergerak (‘mobile devices’) seperti ‘smartphones’ dan tablet yang dihubungkan ke internet secara  perlahan mulai menggantikan fungsi komputer ‘desktop’ dan ‘laptop’. ‘Broadband internet’ menjadi tersebar di seluruh negara-negara yang lebih berkembang. Fiber optik membuat koneksi internet menjadi sangat cepat dengan menyediakan kecepatan lebih tinggi dalam Gbit per detik untuk jaringan tanpa kabel (‘wireless networks’). Dalam teknologi sosial, penggunaan ‘social networking’ seperti Facebook, Twitter, Line, WhatsApp, YouTube, Snapchat, dll. menjadi populer menggantikan fungsi ‘email’, sms, ataupun pelayanan pesan instan lainnya.  Penggunaan ‘webcams’ dan ‘front-facing cameras’ di PC (‘personal computer’) dan alat-alat sejenis dalam pelayanan seperti Skype dan FaceTime membuat ‘video calling’ (telepon video) dan ‘video conferencing’ (rapat via video) menjadi satu bentuk modern dalam komunikasi digital.

 

Dengan berkembangnya teknologi modern ini, khususnya dalam hal komunikasi, ‘networking’ (hubungan jaringan) menjadi sangat penting dalam bisnis dan keuangan.  Data menunjukkan bahwa orang-orang terkaya di dunia adalah orang-orang yang terjun dalam bidang ‘networking’. Analisa kekayaan orang-orang terkaya di Amerika menemukan bahwa kekayaan Bill Gates, Jeff Bezos dan Warren Buffett melebihi kekayaan dari setengah populasi Amerika Serikat, 160 juta orang. Sejak tahun 2013, Bill Gates, yang juga seorang filantropis (suka memberi dan menyumbang ke yayasan sosial), selalu menduduki tempat paling atas sebagai orang paling kaya di dunia.

Namun, pada akhir tahun 2017, data menunjukkan bahwa sekarang Jeff Bezos, founder dan CEO dari Amazon menjadi orang nomor satu terkaya, dengan kekayaan USD 99.6 Milyar (net worth capital market). Sedangkan kekayaan Bill Gates mencapai USD 89.4 Milyar, kekayaan Warren Buffet USD 78.6 Milyar dan kekayaan Mark Zuckerberg USD 73.7 Milyar. Apa rahasia Jeff Bezos sehingga kekayaannya bertambah USD 10.4 Milyar dalam satu hari dan melebihi kekayaan Bill Gates, founder dari Microsoft? Rahasianya adalah ‘networking’ (jaringan kerjasama). Perusahaan Amazon yang bergerak dalam ‘online’ bisnis dan juga memprakarsai networking bisnis online melalui jaringan internet dalam hal transportasi, penjualan dan bisnis makanan seperti ‘Grab’, ‘Gojek’, ‘Go-car’, ‘Go-food’ menjamur di mana-mana dan tersebar di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Ada satu fenomena yang terjadi dimana nilai aset perusahaan Grab melebihi nilai aset perusahaan Garuda Indonesia. Nilai aset perusahaan Grab mencapai Rp. 20 Trilyun, nilai aset perusahaan Gojek sebesar Rp. 17 Trilyun dan Garuda Indonesia sebesar Rp. 12.3 Trilyun (sumber: Kompas TV). Perusahaan Garuda Indonesia memiliki armada kapal terbang yang sangat besar sedangkan perusahaan Grab dan Gojek tidak memiliki armada apapun. Armada Grab dan Gojek adalah milik pribadi orang-orang yang bergabung dalam jaringan kerjasama ini. Sekalipun demikian, karena adanya ‘networking’, perusahaan ini bisa menjadi sangat berhasil, bahkan melebihi dari perusahaan Garuda Indonesia yang selama ini menduduki posisi paling atas dalam hal nilai aset perusahaan.

 

Ada sinerji kekuatan yang luar biasa terjadi, satu pelipatgandaan dalam segala sesuatu – kekuatan, kekayaan, hikmat dan kemampuan untuk berhasil. ‘Tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana’ jika kita hidup dalam kerukunan dan kesatuan. Oleh karena itu, sesuai dengan tuntunan Tuhan di awal tahun, marilah kita ‘berusaha hidup damai dengan semua orang’ (Ibrani 12:14), kejar dan jaga kerukunan dalam keluarga, terhadap sesama, dalam pelayanan, dalam pekerjaan dan dalam hidup kita bersosial dan berbangsa agar sinerji kekuatan terjadi.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Berkat Kerukunan”

Mazmur 133:1-3

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

 

Kerukunan adalah karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Roma 15:5, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus.” Jika kita beribadah dengan cara yang benar, hasil ibadah akan melahirkan kerukunan. Oleh karena itu, janganlah kita dengan mudah menghakimi orang lain, tapi marilah kita mereview cara kita beribadah. Jika kita sungguh-sungguh beribadah, maka Tuhan akan mengaruniakan kerukunan kepada kita. Kerukunan adalah hal yang baik dan indah dalam pandangan Tuhan. Kerukunan dengan prinsip ilahi menarik perhatian Tuhan dan akan menjadi sebuah daya tarik dalam perjalanan kehidupan kita.

 

Kita mengusahakan dan melatih kerukunan di dalam beberapa tingkatan kelompok:

  1. Keluarga
  2. sebagai anak – menjadi pribadi yang menghormati dan taat pada orang tua
  3. sebagai orang tua – memberikan didikan dan nasihat yang diperlukan anak
  4. sebagai suami – menjadi kepala keluarga dan bapa bagi anak-anak
  5. sebagai isteri – menjadi penolong bagi suami dan ibu bagi anak-anak
  6. Gereja

Ketika setiap anggota tubuh Kristus berperan menjalankan bagiannya masing-masing, maka pengurapan akan aktif dan mengalir. Hidup kerukunan dijaga antar sesama saudara seiman dan juga antar gereja sesama Tubuh Kristus.

  1. Masyarakat – bangsa dan negara / pemerintah

Gereja juga berperan dan berfungsi di dalam masyarakat dan pemerintah.

Bila ada satu kelompok yang tidak mengerjakan peran, maka pengurapan akan mandat dan tidak mengalir.

 

Berkat apa yang kita peroleh saat hidup dalam kerukunan?

  1. Kerukunan diumpamakan seperti minyak urapan yang meleleh ke janggut dan leher jubah Harun. Kerukunan di antara sesama saudara adalah seperti minyak urapan yang ketika disentuh, mengakibatkan orang yang biasa berubah menjadi orang yang spesial dan dapat mengerjakan hal-hal yang spesial. Pengurapan dilambangkan oleh Roh Kudus. Kerukunan akan menarik pengurapan yang berlimpah-limpah. Minyak urapan tidak boleh dibuat oleh sembarang orang, tapi oleh orang-orang yang telah ditunjuk.

 

  1. Kerukunan juga digambarkan seperti embun yang mengalir dari gunung Hermon. Embun berbicara tentang berkat. Kejadian 27:28, “Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.” Tuhan memberi makan anak-anak Israel di padang gurun dengan manna yang turun bersama-sama dengan embun (Keluaran 16:14-15). Berkat yang sama dilepaskan Yakub pada Yusuf. Ulangan 33:13-14, “Tentang Yusuf ia berkata: “Kiranya negerinya diberkati oleh Tuhan dengan yang terbaik dari langit, dengan air embun, dan dengan air samudera raya yang ada di bawah; dengan yang terbaik dari yang dihasilkan matahari, dan dengan yang terbaik dari yang ditumbuhkan bulan.”

 

Yakub mengutamakan kerukunan terhadap Laban dan Esau. Ketika Yakub memutuskan untuk pulang kembali ke negeri bapanya dan kaumnya, dia menyiapkan begitu banyak hadiah untuk berdamai dengan Esau dan untuk mendapat kasihnya. Ia mengirim utusan mendahuluinya dan rombongan keluarganya dengan membawa persembahan yang banyak untuk Esau (Kejadian 32:13-20). Yusuf juga mengutamakan kerukunan terhadap saudara-saudaranya, sekalipun mereka pernah membenci dan menjualnya sehingga dia terpisah dari rumah bapanya. Yusuf melupakan apa yang pahit dan melihat ke depan pada berkat dobel porsi yang Tuhan sediakan baginya. Dia berkat bahwa Tuhan telah membuatnya berbuah lebat. Kejadian 41:51-52, “Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” Arti dari Efraim adalah ‘double fruitfulness’ yang berarti dua kali lipat berbuah-buah. Sebelum mendapat berkat dobel porsi, Yusuf melupakan apa segala penderitaan dan perbuatan jahat saudara-saudaranya. Dia menamakan anaknya yang pertama ‘Manasye’ yang berarti ‘causing to forget’ atau ‘membuat melupakan’.  Dia percaya dan berkata bahwa Allah memiliki tujuan di balik penderitaannya untuk memelihara kehidupan satu bangsa (Kejadian 45:5-8). Ketika saudara-saudaranya menyerahkan diri mereka untuk menjadi budaknya, Yusuf menolak dan berkata di Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memlihara hidup suatu bangsa yang besar.” Oleh karena itu, Tuhan mengaruniakan berkat yang besar kepada Yusuf – hikmat, kekuasaan, kekayaan dan kelimpahan.

 

  1. Tuhan berjanji bahwa jika kita hidup dalam kerukunan, maka Tuhan akan memerintahkan berkat dan kehidupan untuk selama-lamanya. Kata ‘memerintahkan’ dalam bahasa Ibrani adalah צוה ṣâwâ, yang berarti ‘memberi hak/wewenang untuk memperoleh berkat’. Sedangkan kata ‘selama-lamanya’ dalam bahasa Ibrani adalah עוֹלָם ‘ôlâm atau עֹלָם ‘olam yang berarti ‘terus menerus sampai kekekalan’. Jadi, jika kita hidup dalam kerukunan, yang dipandang indah dan baik oleh Tuhan, maka Dia akan memberikan hak atau wewenang pada kita untuk memperoleh berkat secara terus menerus dalam waktu yang panjang sampai pada kekekalan. Sewaktu kerukunan dipelihara, maka berkat akan diperintahkan untuk mencari kita. Kita tidak perlu mengejar berkat, tapi kebaikan, kemurahan, berkat dan kehidupan yang akan mengikuti kita seumur hidup kita.

 

  1. Kerukunan juga akan memampukan terjadinya unity di antara keluarga, gereja, sesama manusia dan sesama Tubuh Kristus serta di antara masyarakat dan bangsa. Ada kekuatan sinerji yang terjadi dimana ada unity, jejaring dan kerjasama yang kuat. Ketika kita unity, bersama-sama dengan Tuhan maka tidak ada rencana yang tidak akan dapat terlaksana. Kejadian 11:6, “dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.”

 

Kerukunan adalah suatu ukuran untuk mengukur ibadah seseorang pada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita menguji ibadah kita. Janganlah kita mengira bahwa ibadah adalah sumber keuntungan. Di hari-hari terakhir ini, banyak yang menjadikan gereja sebagai tempat mencari untung. Gereja yang demikian sudah kehilangan kebenaran dan cenderung mementingkan diri atau kelompok sendiri sehingga menimbulkan pertengkaran dan perselisihan. Yakobus 3:16 mengingatkan bahwa di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Masalahnya bukan pada ibadah, tetapi apakah kita memiliki rasa cukup. Jika beribadah dengan benar, sungguh-sungguh dan dengan rasa cukup, maka Tuhan akan mengaruniakan kerukunan. Saat kita rukun dengan pasangan, isteri/suami dan anak serta dengan sesama, maka Tuhan akan mengaruniakan berkat dan keuntungan besar pada kita.

 

Ketika kita hidup rukun dan dalam unity, kerukunan itu seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Arti dari Hermon adalah ‘sanctuary’ (‘tempat kudus’). Berkat yang diperoleh jika kita berada di tempat kudus adalah:

  1. Keagungan, semarak, kekuatan dan kehormatan

Mazmur 96:6 berkata, “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.” Tuhan akan melimpahkan kekuatan-Nya bagi setiap kita yang berada di ‘Hermon’, yaitu tempat kudus-Nya. Keagungan, semarak, kekuatan dan kehormatan ditemukan di tempat kudus Tuhan.

  1. Di tempat kudus juga, Tuhan membagi-bagi segala sesuatu

Mazmur 108:7 berkata, “Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya: “Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem, dan lembah Sukot hendak Kuukur.” Arti dari ‘Sikhem’ adalah bahu (‘shoulder’). Tuhan akan menaruh beban pada bahu kita untuk diangkat. Ciri-ciri orang yang merasa cukup akan bersyukur, memiliki empati dan peduli pada lingkungan dan kota. Sewaktu kita kembali ke tempat kudus, kita akan tahu bagaimana membagi.

  1. Allah dahsyat di tempat kudus-Nya

Mazmur 68:35, “Allah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah!”

Dengan Allah yang dahysat tinggal dan berjalan bersama-sama, kita tidak perlu takut menghadapi  ketidakpastian, kesulitan ataupun tantangan apapun.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Memprioritaskan Tuhan”

1 Korintus 2:9

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

 

Tahun 2018 diprediksikan merupakan tahun kekeringan dan tahun yang sulit. Banyak ketidakpastian dalam berbagai hal: politik, ekonomi, sosial, termasuk keluarga dan iman. Kita sangat membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk menghadapi ketidakpastian ini. Persoalan di tahun 2017 yang belum selesai masih berlanjut ditambah dengan berbagai persoalan baru seperti rencana pilkada yang akan dilaksanakan di 171 tempat dan prediksi goncangan ekonomi. Tensi politik menghadapi pilkada mempengaruhi keamanan kota dan berdampak pada keberlangsungan kehidupan masyarakat serta kesulitan dalam hal ekonomi. Data sejarah menunjukkan bahwa krisis politik, ekonomi dan sosial menyebabkan korban bagi kaum minoritas. Kita harus banyak berdoa untuk TNI dan Polri serta semua bagian yang terkait agar bijak, waspada dan kuat menghadapi semua goncangan ini. Namun, di tengah ketidakpastian ini, kita memiliki Allah yang pasti dan yang mencurahkan kasih karunia yang berlimpah-limpah. Pandangan kita bukan pada besarnya masalah, tapi pada siapa yang memegang tangan kita, siapa yang berjalan bersama dengan kita dan menjadi andalan kita. Tuhan kita nyata dan bisa membuka jalur kemurahan sesulit apapun persoalannya. Oleh karena itu, kita bisa berharap bahwa Allah Immanuel pasti menolong tepat pada waktunya dan kita akan mengalami hal-hal yang lebih baik di tahun 2018 karena kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi.

 

Dalam mengantisipasi kesulitan ekonomi yang mungkin bisa terjadi, kita harus mempersiapkan diri dengan memperhatikan penggunaan uang agar tidak melebihi pendapatan, serta jangan sampai berhutang. Dalam beberapa abad terakhir, telah terjadi beberapa revolusi industri: mesin uap menggunakan kekuatan uap untuk produksi; tenaga listrik dengan mengandalkan kekuatan listrik untuk industri; mesin dan robot menggantikan pekerjaan manusia; kemudian di abad sekarang dan mendatang, jaringan ‘online’ internet akan menguasai dan mengontrol segala sesuatu. Barangsiapa yang ahli dalam pemakaian jaringan internet secara ‘online’ (digital), yang akan unggul dalam menguasai perekonomian. Jaringan internet berguna untuk membuat jarak jauh menjadi dekat, mempermudah komunikasi dan transaksi, baik perbankan, penjualan dan pembelian. Namun, internet dan gadget bisa juga membuat hubungan jarak yang dekat menjadi jauh dan hubungan keluarga menjadi renggang. Penyalahgunaan internet bisa menimbulkan kerusakan moral oleh pornografi, perpecahan oleh gosip dan fitnah dan memudahkan kejahatan merajalela. Dalam hal ini, kita harus memperlengkapi diri untuk belajar memfungsikan internet dengan benar dan juga berjaga-jaga agar tidak terjerat dalam penyimpangan.

 

Di awal tahun ini, kita diberi pesan bagaimana berjalan dan hidup di tahun 2018, yaitu:

  1. Beribadah dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan rasa cukup

1 Timotius 6:6, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”

Kita berharap pada kemurahan Tuhan untuk memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Namun, itu tidak datang begitu saja, diperlukan kesungguhan hati dalam beribadah. Cek dan ricek apakah kita sungguh-sungguh dalam beribadah atau hanya karena kebiasaan dan sekedar merasa tidak enak kalau tidak beribadah pada hari Minggu sebelum jalan-jalan. Ini waktunya kita bangun dari tidur; minta hati yang baru dan kacamata baru untuk memandang dari kacamata Tuhan.

 

Kasih karunia dan kekuatan Tuhan akan dilimpahkan pada orang-orang yang bersungguh hati dalam beribadah. 2 Tawarikh 16:9a, “Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” Biarlah kita jadikan ibadah itu bagian kehidupan kita, yang dilakukan bukan saja di gereja, tapi dalam keseharian kita. Segala sesuatu yang kita kerjakan adalah ibadah. Ibadah menjaga kita untuk tidak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan. Ujian berlaku saat kita berpikir bahwa mata Tuhan tidak melihat apa yang kita lakukan.

 

Ibadah dengan rasa cukup akan mendatangkan keuntungan besar. Rasa cukup membuat kita bisa bersyukur dan mau berbagi sekalipun dalam kekurangan karena adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kisah Para Rasul 21:35c).

 

  1. Menjaga kerukunan – hidup rukun sehati

Mazmur 133:1-3, “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

 

Hendaklah kita menjaga kerukunan di antara keluarga – suami dan isteri, orang tua dan anak, sesama saudara baik dalam keluarga maupun saudara seiman dan sesama hamba Tuhan, di antara teman-teman kerja, di antara gereja-gereja Tubuh Kristus serta rukun di dalam masyarakat. Jaga kerukunan agar musuh tidak berhasil menyerang dan memecah belah.

 

Sewaktu kita mau hidup rukun, Tuhan akan memberikan hak atau wewenang pada kita untuk memperoleh berkat secara terus menerus dalam waktu yang panjang sampai pada kekekalan. Sewaktu kerukunan dipelihara, maka berkat akan diperintahkan untuk mencari kita. Kita tidak perlu mengejar berkat, tapi kebaikan, kemurahan, berkat dan kehidupan yang akan mengikuti kita seumur hidup kita.

 

  1. Memprioritaskan Tuhan

Salah satu ciri-ciri orang yang mendahulukan Tuhan adalah selalu memberi yang terbaik untuk Tuhan. Dalam keadaan susah ataupun diberkati, selalu menyisihkan yang terbaik dan mempersembahkannya untuk Tuhan, baik dalam hal waktu, kasih maupun uang/materi. Orang-orang yang memprioritaskan Tuhan juga taat dan setia pada Firman Tuhan sekalipun keadaan tidak mungkin dan sulit.
Dalam Alkitab, ada beberapa contoh tokoh Alkitab yang memprioritaskan Tuhan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Salah satunya adalah kisah tentang Elia dan janda di Sarfat yang taat memberikan kepada Tuhan terlebih dahulu sekalipun dalam kekurangan dan keadaan yang mempertaruhkan nyawanya dan anaknya.

 

1 Raja-raja 17:8-14, “Maka datanglah firman Tuhan kepada Elia: “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.” Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Perempuan itu menjawab: “Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi.”

 

Di tengah-tengah kekeringan, janda di Sarfat melakukan hal yang sulit baginya. Karena ketaatannya, dia dan anaknya dipelihara sampai musim kering lewat. Tuhan ingin memberkati kita seperti jandi di Sarfat yang memprioritaskan Tuhan.

 

Contoh lain adalah Ishak, yang taat pada Tuhan, mengikuti perintah Tuhan dan tidak mengandalkan Mesir. Kejadian 26:1-2, “Maka timbullah kelaparan di negeri itu – ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.” Mesir melambangkan sistem dunia. Sewaktu kelaparan terjadi, Ishak mau lari ke dunia untuk mencari pertolongan. Ishak mencoba berharap pada dunia. Tapi Tuhan berpesan untuk tinggal di Gerar. Cara Tuhan menolong berbeda. Ishak mendengar dan melakukan pesan Tuhan dan mulai menabur. Dan karena Ishak taat, tahun itu juga ia menuai dan mendapat hasil 100 kali lipat. Kejadian 26:13, “Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Janganlah kita berhenti menabur, namun prioritaskan Tuhan. Taburan kita akan menghasilkan tuaian 100 kali lipat.

 

Contoh ketiga adalah kisah janda miskin di Perjanjian Baru. Tuhan Yesus memuji kasih janda miskin itu dan berkata bahwa ia memberi lebih banyak dari pada semua orang di bait Allah pada saat itu. Lukas 21:2-4, “Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahwa ia memberi seluruh nafkahnya.” Sekalipun hanya memberi dua peser uang, janda miskin itu memberi persembahan dari kekurangannya, yaitu seluruh uang yang dia miliki.

 

Di tahun 2018 yang diprediksi kering dan sulit ini, marilah kita memprioritaskan Tuhan, mempersembahkan kasih kita dan memberi yang terbaik untuk Tuhan. Marilah kita memulai tahun 2018 dengan Tuhan dan mengandalkan Dia dalam segala hal, baik dalam keadaan senang maupun susah. Marilah kita tetap bersemangat dalam membangun Rumah Persembahan dan menjadi rumah persembahan bagi-Nya. Biarlah kita belajar seperti Hizkia yang memperbaiki bait Allah dan memulihkan ibadah di rumah Tuhan. Marilah kita terus membangun agar Rumah Persembahan segera selesai dan menjadi berkat dan wadah untuk menampung banyak orang yang datang untuk mengenal Tuhan. Marilah kita beribadah dengan sungguh-sungguh disertai dengan rasa cukup yang mendorong kita untuk bersyukur dan membagi; jaga kerukunan; taat pada pesan Firman Tuhan dan tetap menabur seperti Ishak, sekalipun di musim kering; dan memberikan yang terbaik dengan muatan kasih seperti janda miskin. Jika kita menghormati Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka Dia akan memberi terobosan dan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)

“Kunci Keberhasilan di Tahun 2018”

2 Tawarikh 29:1-3

“Hizkia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abia, anak Zakharia. Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang pertama, ia membuka pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya.”

 

Memasuki tahun 2018 orang-orang merasa kuatir akan goncangan politik dan ekonomi yang mungkin bisa terjadi oleh karena pilkada yang akan berlangsung di 171 tempat di berbagai propinsi, kota dan kabupaten. Bagaimana kita memulai perjalanan di tahun 2018 agar kita berhasil dan beruntung? Di renungan sebelumnya dijelaskan bahwa ibadah yang disertai dengan rasa cukup akan memberi keuntungan besar (1 Timotius 6:6). Apapun yang kita lakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan karena Dialah yang memberi upah. Hidup dan pekerjaan kita adalah ibadah. Ibadah yang disertai dengan rasa cukup akan menuntun kita untuk bersyukur, membagi serta memiliki empati dan kepedulian pada lingkungan, kota dan bangsa.

 

Ada beberapa tokoh di Alkitab yang mengalami terobosan yang luar biasa, membuat sejarah baru dan perubahan yang baik bagi bangsanya. Salah satunya adalah Hizkia, seorang raja muda berumur 25 tahun yang membawa pemulihan dan keberhasilan bagi bangsanya. Di tengah-tengah kemerosotan moral dan kemiskinan, Hizkia berhasil membawa bangsa Yehuda untuk bangkit, pulih secara rohani dan menjadi makmur. Kita akan belajar dari Raja Hizkia tentang kunci keberhasilan dan cara kita memulai perjalanan di tahun 2018. Apa yang dilakukan Hizkia sehingga dia berhasil dalam segala usahanya?

  1. Hizkia hidup benar

“Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya” (ayat 2). Hizkia meneladani Daud dalam perjalanan hidupnya, tidak seperti ayahnya Ahas yang menghancurkan, merampok, menutup pintu rumah Tuhan dan membuang segala perkakasnya. Ahas bahkan mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api kepada para Baal dan berharap pertolongan pada Raja Asyur dengan menyerahkan emas yang diambil dari rumah Tuhan (2 Tawarikh 28:1-3, 21-24; 29:19).

  1. Hizkia menghormati tempat kudus Tuhan

“…ia membuka pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya” (ayat 3). Hizkia juga mendorong para imam dan orang-orang Lewi untuk menguduskan diri dan menguduskan rumah Tuhan serta mempersembahkan korban bakaran bagi Allah di tempat kudus (2 Taw. 29:4-5, 11 & 15). Mazmur 68:35 berkata, “Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah!” Allah dahsyat di tempat kudus-Nya dan berkat Tuhan ada di sana. Ketika Tuhan berada di kampung halamannya, Dia tidak dapat melakukan mujizat karena orang-orang di sana tidak percaya dan tidak menghormati-Nya (Matius 13:58). Adalah pilihan kita sendiri apakah kita menghargai atau meninggalkan tempat kudus. Jika kita hidup dalam dosa, kita akan dipisahkan dari tempat kudus Tuhan. Tuhan tidak bekerja dengan dahsyat di dalam hidup orang fasik. Ketika kita rela hidup kudus dan meninggalkan hidup yang lama, kita dapat tinggal di tempat kudus Tuhan dan Dia akan menunjukkan kedahsyatan-Nya.

  1. Hizkia mengikat perjanjian dengan Tuhan

“Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan Tuhan, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita.” (2 Tawarikh 29:10)

  1. Hizkia memulihkan pola ibadah Pondok Daud

2 Tawarikh 29:25-27, “Ia menempatkan orang-orang Lewi di rumah Tuhan dengan ceracap, gambus, dan kecapi sesuai dengan perintah Daud dan Gad, pelihat raja, dan nabi Natan, karena dari Tuhanlah perintah itu, dengan perantaraan nabi-nabi-Nya. Maka berdirilah orang-orang Lewi dengan alat-alat musik Daud, demikian pula para imam dengan nafiri. Lalu Hizkia memerintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah. Pada saat persembahan korban bakaran dimulai, mulailah pula dinyanyikan nyanyian bagi Tuhan dan dibunyikan nafiri, dengan iringan alat-alat musik Daud, raja Israel. Seluruh jemaah sujud menyembah sementara nyanyian dinyanyikan dan nafiri dibunyikan. Semuanya itu berlangsung sampai korban bakaran habis terbakar. Sehabis korban bakaran dipersembahkan, raja dan semua orang yang hadir bersama-sama dia berlutut dan sujud menyembah. Lalu raja Hizkia dan para pemimpin memerintahkan orang-orang Lewi menyanyikan puji-pujian untuk Tuhan dengan kata-kata Daud dan Asaf, pelihat itu. Maka mereka menyanyikan puji-pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan sujud menyembah.”

Hizkia meneladani pola ibadah seperti yang dilakukan oleh Daud dan menempatkan para penyanyi dan pemusik untuk mempersembahkan puji-pujian dengan iringan alat-alat musik sampai persembahan korban bakaran selesai dibakar.

  1. Hizkia mendorong kerukunan dan unity di antara para imam dan orang-orang Lewi

“Tetapi jumlah imam terlalu sedikit, sehingga mereka tidak sanggup menguliti semua korban bakaran. Oleh sebab itu saudara-saudara mereka, orang-orang Lewi, membantu mereka sampai pekerjaan itu selesai dan sampai para imam menguduskan dirinya. Sebab orang-orang Lewi itu lebih bersungguh-sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam.” (2 Taw. 29:34). Orang-orang Lewi menolong para imam dalam pekerjaan persiapan korban bakaran untuk persembahan kudus sehingga kerukunan yang terjalin membuat ibadah di rumah Tuhan ditetapkan kembali dengan sukacita (2 Taw. 29:35-36).

 

Ketika kita hidup rukun dan dalam unity, kerukunan itu seperti minyak urapan yang baik yang meleleh ke janggut dan ke leher jubah serta seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion (Mazmur 133:1-3). Arti dari Hermon adalah ‘sanctuary’ (‘tempat kudus’). Mazmur 96:6 berkata, “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.” Tuhan akan melimpahkan kekuatan-Nya bagi setiap kita yang berada di ‘Hermon’, yaitu tempat kudus-Nya. Keputusan untuk kembali ke tempat kudus-Nya adalah pilihan kita sendiri dan tidak ditentukan oleh orang lain. Apakah kita memilih untuk memberikan pengampunan pada orang-orang yang melukai kita ditentukan oleh kita sendiri. Janganlah kita menunggu sampai orang tersebut berubah, baru melepaskan pengampunan. Sewaktu kita kembali ke tempat kudus, Tuhan akan mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan. Di tempat kudus juga, Tuhan membagi-bagi segala sesuatu. Ibadah yang disertai rasa cukup memberikan keuntungan yang besar. Rasa cukup mendorong kita untuk memberi dan membagi sehingga kita tidak akan menguasai untuk memiliki, tapi menjadi penilik atas apa yang Tuhan percayakan pada kita. Sewaktu kita kembali ke tempat kudus, kita akan tahu bagaimana membagi.

 

Mazmur 108:7 berkata, “Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya: “Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem, dan lembah Sukot hendak Kuukur.” Arti dari pada Sikhem adalah ‘shoulder’ (‘bahu’). Tuhan akan menaruh beban pada bahu kita untuk dijunjung dan diangkat. Di tempat kudus, beban harus dibagi. Untuk mengangkat beban, kita harus melatih otot bahu kita. Kekuatan perlu dilatih. Kalau tidak melatih, tidak akan menjadi lebih kuat. Tubuh kita akan menjadi semakin kuat jika dilatih. Oleh karena itu, kita perlu berlatih dalam menanggung beban agar semakin kuat dan Tuhan akan mempercayakan beban yang semakin besar. Sukot adalah lembah yang subur dimana Yakob pernah memasang tenda untuk ternak-ternaknya dan membangun rumah bagi dirinya sendiri (Kejadian 33:17).

 

Marilah kita kembali ke tempat kudus Tuhan, hidup benar dan menjaga kerukunan antara sesama. Tuhan itu dahsyat dan akan melimpahkan kekuatan dan kehormatan bagi orang-orang yang berada di tempat kudus-Nya, di mana ditemukan keagungan dan semarak. Marilah kita bersama-sama memberi bahu untuk memikul beban – menyelesaikan pembangunan rumah Tuhan. Biarlah kita belajar dari Hizkia yang mengutamakan perbaikan rumah Tuhan dan pemulihan ibadah sehingga Tuhan memberikan terobosan dan membuat segala sesuatu yang dilakukannya berhasil.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)