“Berkat Kerukunan”

adminRENUNGAN

Mazmur 133:1-3

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

 

Kerukunan adalah karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Roma 15:5, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus.” Jika kita beribadah dengan cara yang benar, hasil ibadah akan melahirkan kerukunan. Oleh karena itu, janganlah kita dengan mudah menghakimi orang lain, tapi marilah kita mereview cara kita beribadah. Jika kita sungguh-sungguh beribadah, maka Tuhan akan mengaruniakan kerukunan kepada kita. Kerukunan adalah hal yang baik dan indah dalam pandangan Tuhan. Kerukunan dengan prinsip ilahi menarik perhatian Tuhan dan akan menjadi sebuah daya tarik dalam perjalanan kehidupan kita.

 

Kita mengusahakan dan melatih kerukunan di dalam beberapa tingkatan kelompok:

  1. Keluarga
  2. sebagai anak – menjadi pribadi yang menghormati dan taat pada orang tua
  3. sebagai orang tua – memberikan didikan dan nasihat yang diperlukan anak
  4. sebagai suami – menjadi kepala keluarga dan bapa bagi anak-anak
  5. sebagai isteri – menjadi penolong bagi suami dan ibu bagi anak-anak
  6. Gereja

Ketika setiap anggota tubuh Kristus berperan menjalankan bagiannya masing-masing, maka pengurapan akan aktif dan mengalir. Hidup kerukunan dijaga antar sesama saudara seiman dan juga antar gereja sesama Tubuh Kristus.

  1. Masyarakat – bangsa dan negara / pemerintah

Gereja juga berperan dan berfungsi di dalam masyarakat dan pemerintah.

Bila ada satu kelompok yang tidak mengerjakan peran, maka pengurapan akan mandat dan tidak mengalir.

 

Berkat apa yang kita peroleh saat hidup dalam kerukunan?

  1. Kerukunan diumpamakan seperti minyak urapan yang meleleh ke janggut dan leher jubah Harun. Kerukunan di antara sesama saudara adalah seperti minyak urapan yang ketika disentuh, mengakibatkan orang yang biasa berubah menjadi orang yang spesial dan dapat mengerjakan hal-hal yang spesial. Pengurapan dilambangkan oleh Roh Kudus. Kerukunan akan menarik pengurapan yang berlimpah-limpah. Minyak urapan tidak boleh dibuat oleh sembarang orang, tapi oleh orang-orang yang telah ditunjuk.

 

  1. Kerukunan juga digambarkan seperti embun yang mengalir dari gunung Hermon. Embun berbicara tentang berkat. Kejadian 27:28, “Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.” Tuhan memberi makan anak-anak Israel di padang gurun dengan manna yang turun bersama-sama dengan embun (Keluaran 16:14-15). Berkat yang sama dilepaskan Yakub pada Yusuf. Ulangan 33:13-14, “Tentang Yusuf ia berkata: “Kiranya negerinya diberkati oleh Tuhan dengan yang terbaik dari langit, dengan air embun, dan dengan air samudera raya yang ada di bawah; dengan yang terbaik dari yang dihasilkan matahari, dan dengan yang terbaik dari yang ditumbuhkan bulan.”

 

Yakub mengutamakan kerukunan terhadap Laban dan Esau. Ketika Yakub memutuskan untuk pulang kembali ke negeri bapanya dan kaumnya, dia menyiapkan begitu banyak hadiah untuk berdamai dengan Esau dan untuk mendapat kasihnya. Ia mengirim utusan mendahuluinya dan rombongan keluarganya dengan membawa persembahan yang banyak untuk Esau (Kejadian 32:13-20). Yusuf juga mengutamakan kerukunan terhadap saudara-saudaranya, sekalipun mereka pernah membenci dan menjualnya sehingga dia terpisah dari rumah bapanya. Yusuf melupakan apa yang pahit dan melihat ke depan pada berkat dobel porsi yang Tuhan sediakan baginya. Dia berkat bahwa Tuhan telah membuatnya berbuah lebat. Kejadian 41:51-52, “Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” Arti dari Efraim adalah ‘double fruitfulness’ yang berarti dua kali lipat berbuah-buah. Sebelum mendapat berkat dobel porsi, Yusuf melupakan apa segala penderitaan dan perbuatan jahat saudara-saudaranya. Dia menamakan anaknya yang pertama ‘Manasye’ yang berarti ‘causing to forget’ atau ‘membuat melupakan’.  Dia percaya dan berkata bahwa Allah memiliki tujuan di balik penderitaannya untuk memelihara kehidupan satu bangsa (Kejadian 45:5-8). Ketika saudara-saudaranya menyerahkan diri mereka untuk menjadi budaknya, Yusuf menolak dan berkata di Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memlihara hidup suatu bangsa yang besar.” Oleh karena itu, Tuhan mengaruniakan berkat yang besar kepada Yusuf – hikmat, kekuasaan, kekayaan dan kelimpahan.

 

  1. Tuhan berjanji bahwa jika kita hidup dalam kerukunan, maka Tuhan akan memerintahkan berkat dan kehidupan untuk selama-lamanya. Kata ‘memerintahkan’ dalam bahasa Ibrani adalah צוה ṣâwâ, yang berarti ‘memberi hak/wewenang untuk memperoleh berkat’. Sedangkan kata ‘selama-lamanya’ dalam bahasa Ibrani adalah עוֹלָם ‘ôlâm atau עֹלָם ‘olam yang berarti ‘terus menerus sampai kekekalan’. Jadi, jika kita hidup dalam kerukunan, yang dipandang indah dan baik oleh Tuhan, maka Dia akan memberikan hak atau wewenang pada kita untuk memperoleh berkat secara terus menerus dalam waktu yang panjang sampai pada kekekalan. Sewaktu kerukunan dipelihara, maka berkat akan diperintahkan untuk mencari kita. Kita tidak perlu mengejar berkat, tapi kebaikan, kemurahan, berkat dan kehidupan yang akan mengikuti kita seumur hidup kita.

 

  1. Kerukunan juga akan memampukan terjadinya unity di antara keluarga, gereja, sesama manusia dan sesama Tubuh Kristus serta di antara masyarakat dan bangsa. Ada kekuatan sinerji yang terjadi dimana ada unity, jejaring dan kerjasama yang kuat. Ketika kita unity, bersama-sama dengan Tuhan maka tidak ada rencana yang tidak akan dapat terlaksana. Kejadian 11:6, “dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.”

 

Kerukunan adalah suatu ukuran untuk mengukur ibadah seseorang pada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita menguji ibadah kita. Janganlah kita mengira bahwa ibadah adalah sumber keuntungan. Di hari-hari terakhir ini, banyak yang menjadikan gereja sebagai tempat mencari untung. Gereja yang demikian sudah kehilangan kebenaran dan cenderung mementingkan diri atau kelompok sendiri sehingga menimbulkan pertengkaran dan perselisihan. Yakobus 3:16 mengingatkan bahwa di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Masalahnya bukan pada ibadah, tetapi apakah kita memiliki rasa cukup. Jika beribadah dengan benar, sungguh-sungguh dan dengan rasa cukup, maka Tuhan akan mengaruniakan kerukunan. Saat kita rukun dengan pasangan, isteri/suami dan anak serta dengan sesama, maka Tuhan akan mengaruniakan berkat dan keuntungan besar pada kita.

 

Ketika kita hidup rukun dan dalam unity, kerukunan itu seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Arti dari Hermon adalah ‘sanctuary’ (‘tempat kudus’). Berkat yang diperoleh jika kita berada di tempat kudus adalah:

  1. Keagungan, semarak, kekuatan dan kehormatan

Mazmur 96:6 berkata, “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.” Tuhan akan melimpahkan kekuatan-Nya bagi setiap kita yang berada di ‘Hermon’, yaitu tempat kudus-Nya. Keagungan, semarak, kekuatan dan kehormatan ditemukan di tempat kudus Tuhan.

  1. Di tempat kudus juga, Tuhan membagi-bagi segala sesuatu

Mazmur 108:7 berkata, “Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya: “Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem, dan lembah Sukot hendak Kuukur.” Arti dari ‘Sikhem’ adalah bahu (‘shoulder’). Tuhan akan menaruh beban pada bahu kita untuk diangkat. Ciri-ciri orang yang merasa cukup akan bersyukur, memiliki empati dan peduli pada lingkungan dan kota. Sewaktu kita kembali ke tempat kudus, kita akan tahu bagaimana membagi.

  1. Allah dahsyat di tempat kudus-Nya

Mazmur 68:35, “Allah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah!”

Dengan Allah yang dahysat tinggal dan berjalan bersama-sama, kita tidak perlu takut menghadapi  ketidakpastian, kesulitan ataupun tantangan apapun.

 

*****

(Diringkas dari Pesan Gembala di GBI Rumah Persembahan)